Gaya Arsitektur Di Indonesia

Gaya Arsitektur Di IndonesiaGaya Arsitektur Di Indonesia, seperti halnya negaranya sendiri, sangat beragam dan menawan. Ini mencerminkan perpaduan budaya Indonesia, dan menunjukkan kepada kita bagaimana pedagang dan pedagang yang datang ke sini selama berabad-abad telah membentuk strukturnya.

Orang bisa melihat pengaruh Cina, Arab, Eropa dan India bercampur dengan desain etnik tradisional, yang memunculkan cita rasa khas yang dimiliki arsitektur Indonesia.

Untuk pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana evolusi negara tertanam dalam bangunannya. Baca Juga Artikel kami Lainnya di Jenis Sistem Struktural Bangunan

Macam Gaya Arsitektur Di Indonesia

1. Arsitektur Tradisional di Indonesia

Rumah tradisional atau vernakular orang Indonesia adalah representasi terbaik dari budaya asli mereka. Dikenal sebagai Rumah Adat, rumah ini bervariasi antar daerah dan budaya tetapi juga memiliki kesamaan tertentu.

Mereka terbuat dari fiber, bambu dan timbre serta memiliki atap miring. Dibangun untuk beradaptasi dengan iklim panas dan basah di Indonesia, rumah-rumah ini dibangun di atas panggung, yang melindungi barang dari kelembapan dan mengurangi risiko penyakit yang terbawa air.

Namun, kekuatan utama rumah panggung ini terletak pada kemampuannya untuk menyerap gelombang kejut. Dengan datangnya modernitas dan ekonomi yang mengecilkan sumber daya kolektif, rumah-rumah Rumah Adat hampir tidak digunakan lagi.

Beberapa penduduk setempat telah mencampurkan keduanya, memasang atap tradisional Minang dan Toraja pada struktur beton modern. Kombinasi ini sedang digemari untuk perkantoran atau museum, sebagai tanda warisan nasional.

Namun, beberapa rumah vernakular tetap dipertahankan sebagai daya tarik wisatawan, khususnya di Tanah Toraja di Sulawesi Selatan.

2. Arsitektur Religius di Indonesia

Agama merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di kepulauan Indonesia. Pengaruh terbesar datang selama ‘periode Indianisasi’ dari abad ke-4 hingga ke-15, di mana agama Buddha dan Hindu mendapatkan banyak pengikut di negara ini.

Kompleks Prambanan di Yogyakarta dianggap sebagai contoh terbaik arsitektur Hindu; Ini memiliki atap tinggi dan runcing yang menampilkan ukiran yang rumit, didedikasikan untuk Trimurti. Trimurti adalah pemujaan terhadap Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara) dan Siwa (perusak) sebagai tiga dewa / proses yang melengkapi kehidupan di bumi.

Namun, agama yang dipraktikkan di Bali, Jawa, dan kantong-kantong lain yang didominasi Hindu di Indonesia ini menggabungkan pemujaan Trimurti dengan Budha dan kepercayaan animisme lokal, sehingga yang pada akhirnya dipraktikkan adalah agama yang sama sekali baru.

Candi-candi di Indonesia mencerminkan keunikan tersebut. Fitur merek dagang termasuk gerbang Candi Bentar terbelah yang menunjukkan simetri dan gerbang Paduraksa di mana atap yang menjulang tinggi menggabungkan ambang di dalamnya.

Bale kulkul adalah ciri umum lainnya, yang berfungsi sebagai menara pengawas atau menara genderang dan terakhir, menara Meru yang melambangkan kediaman surgawi para dewa. Pura biasanya dibagi menjadi tiga zona atau tempat suci yang dikenal sebagai Nista mandala, Madhya mandala dan Uttam mandala dalam urutan kesucian yang naik.

Arsitektur Religius di Indonesia Lainnya

Sedangkan gapura Candi Bentar menjadi pembatas dunia luar dari candi, komplek sebagai pintu gerbang utama, paduraksa sering digunakan untuk membatasi tempat suci yang paling dalam, tempat para dewa bersemayam, dari tempat suci tengah.

Arsitektur Islam sama menariknya, terutama di Indonesia, negara dengan jumlah Muslim terbesar ketiga di dunia. Abad ke-15 menyaksikan Islam mendapatkan pijakan yang kuat di Indonesia, khususnya di Jawa dan Sumatera.

Bercampur dengan pengaruh Hindu-Budha saat itu, arsitektur masjid menggabungkan cita rasa lokal. Dengan demikian, masjid awal memiliki gerbang yang rumit dan atap bertingkat, mirip dengan menara candi Meru.

Alih-alih menara dan kubah yang khas, mereka biasanya berupa struktur berbentuk piramida yang berdiri di atas empat pilar. Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah adalah contohnya.

Namun, perdagangan dengan negara-negara Arab membawa pengaruh asing ke Indonesia. Sejak abad ke-19, masjid dibangun mirip dengan arsitektur Islam global, dengan menara dan kubah yang digunakan.

Mereka bahkan ditambahkan ke masjid yang lebih tua, dan dikatakan sebagai cerminan dari pendakian Indonesia menuju praktik Islam yang lebih ortodoks. Masjid Agung Baiturrahman di Banda Aceh dan Masjid Agung Medan di Sumatera Utara adalah contoh utamanya.

3. Arsitektur Kolonial di Indonesia

Sebelumnya dikenal sebagai Hindia Belanda, Indonesia mempertahankan sebagian besar arsitektur kolonialnya. Ketika Belanda pertama kali tiba, mereka lebih menyukai pasangan bata dan batu bata untuk membangun rumah.

Mereka mencoba membawa keahlian dari negara asalnya ke Indonesia, membangun kanal dengan rumah petak. Namun, hal ini ternyata menjadi bencana di iklim panas dan basah, yang menyebabkan wabah malaria dan disentri secara besar-besaran.

Selama bertahun-tahun, Belanda belajar dari kesalahan mereka dan menggabungkan elemen lokal seperti atap dan serambi ke bangunan mereka. Perlahan pengaruh neoklasik dan neo-gotik mulai merembes ke dalam arsitektur, dengan masuknya kolom dan beranda.

Ini paling menonjol di gereja-gereja Katolik di Jawa dan provinsi-provinsinya. Gereja Blenduk di Semarang dan Katedral Jakarta adalah contoh yang bagus dari gaya ini.

Saat abad ke – 16 hingga 17 kedatangan kekuatan dari eropa di Indonesia yang menggunakan batu dapat di jumpai pada konstruksi – konstruksi mereka. Sebelumnya Indonesia hanya menggunakan kayu saja dengan beberapa produk sampingan. Dan terdapat beberapa pengecualian untuk arsitektur keagamaan, maupun istana utama. Salah satu yang pertama merupakan pemukiman wilayah Belanda yang bernama Batavia yang berubah nama menjadi Jakarta di abad ke 17-18.

4. Arsitektur Pasca Kemerdekaan di Indonesia

Sejak tahun 1970-an, Gaya Internasional mulai muncul di Indonesia, ditandai dengan gedung pencakar langit yang terbuat dari kaca, baja dan beton. Ornamen ditolak, digantikan oleh transparansi dan keseimbangan di sebagian besar struktur.

Contohnya termasuk Hotel Indonesia yang terkenal dan Museum Tsunami Aceh. Pemerintah mulai mempromosikan bentuk arsitektur asli selama ini, yang menyebabkan peleburan budaya di banyak tempat.

Bangunan modern diatapi dengan atap gaya Minangkabau atau atap multi-tingkat gaya Meru, seperti yang terlihat di Universitas Indonesia dan kantor-kantor negara di Padang.

Di zaman sekarang, negara telah merangkul semua aspek sejarah dan budayanya; Inilah yang membuat arsitekturnya begitu beragam dan menawan bagi wisatawan dari seluruh dunia.

Arsitektur Indonesia, dengan gereja, masjid, dan kuilnya, mencerminkan evolusi budayanya. Negara ini menawarkan banyak hal kepada jutaan pengunjung yang datang ke sana untuk mencari sesuatu yang unik. Peninggalan penjajah dan dinasti diukir di dinding, yang membuat arsitektur Indonesia menjadi sangat indah.

Modernisme awal terjadi pada abad ke dua puluh merupakan hal yang sangat jelas terlihat di Indonesia. Gaya baru arsitektur tersebut rata-rata dapat di temui di daerah pulau Jawa.

Di tahun 1930-an, saat terjadinya depresi dunia yang membuat Jawa sengsara, dan di ikuti oleh masa perang selama 1 dekade. REvolusi, dan perjuangan, yang membatasi perkembangan lingkungan yang di bangun tersebut.

Selanjutnya orang jawa membuat rumah dengan gaya – gaya seperti at-deco yang di mulai di tahun 1920 silam menjadi awal dari gaya arsitektur nasional di Indonesia pada tahun 1950 Gaya Arsitektur Di Indonesia.